Kamis, 31 Mei 2012

album

lihat foto ini dooong

http://www.4shared.com/photo/q8JMHyHY/579974_414623001904607_1000007.html

Rabu, 28 Maret 2012

BIODATA PRIBADI

Nama : Dian Wahyu Harmiyana Harsono 
Umur : 16 thn
Tempat tgl lahir :Semarang, 23 juni 1995
Alamat : JL.Gedongsongo Raya
Sekolah  : SMA NEGERI  8
Hobi : Renang
Status : Lajang
Mava : steak, baksogeger,(sing penting enak)
Miva : es jeruk, (sing penting seger brrr)
film favotit : sing penting rak GARING 
Orang tua : Bpk. SUHARSONO,DRS dan NY, D.JUMITRI
Teman : semua yang aku kenal
Agama :Islam
Gol darah : A
Music :sembarang
Bio : RAK PARENG MBANTER NGGIH

PENGALAMAN PRIBADI SAYA

PENGALAMAN BERPACARAN

Aku seorang cewek yang menurut aku cantik. tiap orang mempunyai kesempurnaan masing-masing dan kekurangan masing-masing, begitu pula dengan diri aku. aku terpikat oleh sosok laki-laki. pengalaman aku kali ini adalah berpacaran. ternyata berpacaran banyak enaknya dan banyak enggak enaknya. aku adalah tipe cewek yang tukang "bosan" aku gga tau juga kenapa setiap aku pacaran terkadang rasa bosan selalu muncul, OH TUHAN.....! MAAFKAN HAMBAMU ini ya tuhan aku selalu menyakiti hati setiap cowok yang dekat sama aku. aku tau diri ku belum seutuhnya sempurna. aku capek tuhan hidupku selalu tidak jelas dan membuat hati orang lain menjadi sakit. Aku selalu ganti" pacar tiap bulan, ataupun tiap aku habis putus. kapan aku LANGGENG ? kapan aku bisa serius untuk pacaran dengan orang lain. kenapa hanya mampu 5 bulan paling maxsimal mencapai langgeng. aku ENVY sama teman" yang selalu serius dan ada kata niat untuk berhubungan samapi 1 tahun, 2 tahun, bahkan lebih. Hampir genap aku lajang 2 minggu. aku berpikir KESEMPURNAANKU ADALAH KELAJANGANKU tapi aku salah, aku merasa tidak sepurna kalau aku lajang seperti ini, aku kesepian, dan selalu galau.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk membuka hati ku untuk orang lain yang dekat dengan diriku. aku sadar aku tidak betah tanpa SEORANG PACAR. DIKALA COWOK" yang niat, tulus, paling lama dekat sama aku, bersabar, itulah yang akan menjadi pacar aku nantinya, aku yakin TUHAN tidak tidur. 
thanks mj

RELIGIUS DI SEKOLAH

Nilai Religius di Sekolah



Nilai Religius di Sekolah
Sejak pemikiran manusia memasuki tahap positif dan fungsional sekitar abad ke-18, pendidikan (baca: pendidikan agama) mulai digugat eksistensinya. Suasana kehidupan modern dengan kebudayaan massif serta terpenuhinya berbagai mobilitas kehidupan secara teknologis-mekanis, pada satu sisi telah melahirkan krisis etika dan moral. Meminjam bahasanya Zainuddin, Manusia di penjuru dunia ini cenderung mengabaikan aturan-aturan yang diberikan oleh Tuhan dan memisahkan fungsi pengaturan kehidupan dari campur tangan agama (sekuler).

Dalam konteks keindonesiaan, badai krisis tersebut pada puncak kulminasinya dapat pada kerusuhan bulan Mei 1998 yang telah memporak-porandakan tatanan nilai agama dan masyarakat. Etika dan tatakrama yang selama ini terinternalisasi dalam budaya anak bangsa yang santun, berubah menjadi gugusan retorika yang tak bermakna. Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ber- tipikal qur’anik karena indahnya kehidupan di tengah kondisi bangsa yang serba plural, menjadi bangsa kanibal (pemangsa sesamanya) yang menakutkan.

Krisis moral tersebut tidak hanya melanda masyarakat lapisan bawah (grass root), tetapi juga meracuni atmosfir birokrasi negara mulai dari level paling atas sampai paling bawah. Munculnya fenomena white collar crimes (kejahatan kerah putih atau keja¬hatan yang dilakukan oleh kaum berdasi, seperti para eksekutif, birokrat, guru, politisi atau yang setingkat dengan mereka), serta isu KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh para elit, merupakan indikasi kongrit bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensional.

Ralitas di atas mendorong timbulnya berbagai gugatan terhadap efektivitas pendidikan agama yang selama ini dipandang oleh sebagaian besar masyarakat telah gagal dalam membangun afeksi anak didik dengan nilai-nilai yang eternal serta mampu menjawab tantangan zaman yang teruys berubah (aktual). Terlebih lagi dalam hal ini, dunia pendidikan yang mengemban peran sebagai pusat pengembangan ilmu dan SDM, pusat sumber daya penelitian dan sekaligus pusat kebudayaan kurang berhasil –kalau tidak dikatakan gagal- dalam mengemban misinya. Sistem pendidikan yang dikembangkan selama ini lebih mengarah pada pengisian kognitif mahasiswa un-sich, sehingga melahirkan lulusan yang cerdas tetapi kurang bermoral. Aspek afeksi dan psikomotor yang sangat vital keberadaannya terabaikan begitu saja.

Fenomena di atas tidak terlepas dari adanya pemahaman yang kurang benar tentang agama (religi) dan keberagaan (religiusitas). Agama sering kali dimaknai secara dangkal, tekstual dan cenderung esklusif. Nilai-nilai agama hanya dihafal sehingga hanya berhenti pada wilayah kognisi, tidak sampai menyentuh aspek afeksi dan psikomotorik.
Keberagamaan (religiusitas) tidak selalu identik dengan agama. Agama lebih menunjuk kepada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan, dalam aspek yang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya. Sedangkan keberagamaan atau religiusitas lebih melihat aspek yang "di dalam lubuk hati nurani" pribadi. Dan karena itu, religiusitas lebih dalam dari agama yang tampak formal.

Istilah nilai keberagamaan (religius) merupakan istilah yang tidak mudah untuk diberikan batasan secara pasti. Ini disebabkan karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak. Secara etimologi nilai keberagamaan berasal dari dua kata yakni: nilai dan keberagamaan. Menurut Rokeach dan Bank bahwasannya nilai merupakan suatu tipe kepercayaan yang berada pada suatu lingkup sistem kepercayaan di mana seseorang bertindak untuk menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang dianggap pantas atau tidak pantas. Ini berarti pemaknaan atau pemberian arti terhadap suatu objek. Sedangkan keberagamaan merupakan suatu sikap atau kesadaran yang muncul yang didasarkan atas keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap suatu agama.

Menurut Gay Hendricks dan Kate Ludeman dalam Ari Ginanjar, terdapat beberapa sikap religius yang tampak dalam diri seseorang dalam menjalankan tugasnya, di antaranya:

a. Kejujuran
Rahasia untuk meraih sukses menurut mereka adalah dengan selalu berkata jujur. Mereka menyadari, justru ketidak jujuran kepada pelanggan, orang tua, pemerintah dan masyarakat, pada akhirnya akan mengakibatkan diri mereka sendiri terjebak dalam kesulitan yang berlarut-larut. Total dalam kejujuran menjadi solusi, meskipun kenyataan begitu pahit.
b. Keadilan
Salah satu skill seseorang yang religius adalah mampu bersikap adil kepada semua pihak, bahkan saat ia terdesak sekalipun. Meraka berkata, "pada saat saya berlaku tidak adil, berarti saya telah mengganggu keseimbangan dunia.
d. Bermanfaat bagi Orang Lain
Hal ini merupakan salah satu bentuk sikap religus yang tampak dari diri seseorang. Sebagaimana sabda Nabi saw: "sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain".
e. Rendah Hati
Sikap rendah hati merupakan sikap tidak sombong mau mendengarkan pendapat orang lain dan tidak memaksakan gagasan atau kehendaknya. Dia tidak merasa bahwa dirinyalah yang selalu benar mengingat kebenaran juga selalu ada pada diri orang lain.
f. Bekerja Efisien
Mereka mampu memusatkan semua perhatian mereka pada pekerjaan saat itu, dan begitu juga saat mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan santai, namun mampu memusatkan perhatian mereka saat belajar dan bekerja.
g. Visi ke Depan
Mereka mampu mengajak orang ke dalam angan-angannya. Dan menjabarkan bagitu terinci, cara-cara untuk menuju kesana. Tetapi pada saat yang sama ia dengan mantap menatap realitas masa kini.
h. Disiplin Tinggi
Mereka sangatlah disiplin. Kedisiplinan mereka tumbuh dari semangat penuh gairah dan kesadaran, bukan berangkat dari keharusan dan keterpaksaan. Mereka beranggapan bahwa tindakan yang berpegang teguh pada komitmen untuk diri sendiri dan orang lain adalah hal yang dapat menumbuhkan energi tingkat tinggi
i. Keseimbangan
Seseorang yang memiliki sifat religius sangat menjaga keseimbangan hidupnya, khusunya empat aspek inti dalam kehidupannya, yaitu: keintiman, pekerjaan, komunitas dan spiritualitas.

Dalam kontek pembelajaran, beberapa nilai religius tersebut bukankan tanggung jawab guru agama semata. Kejujuran tidak hanya disampaikan lewat mata pelajaran agama saja, tetapi juga lewat mata pelajaran lainnya. Misalnya seorang guru matematika mengajarkan kejujuran lewat rumus-rumus pasti yang menggambarkan suatu kondisi yang tidak kurang dan tidak lebih atau apa adanya. Begitu juga seorang guru ekonomi bisa menanamkan nilai-nilai keadilan lewat pelajaran ekonomi. Seseorang akan menerima untung dari suatu usaha yang dikembangkan sesuai dengan besar kecilnya modal yang ditanamkan. Dalam hal ini, aspek keadilanlah yang diutamakan.

Keberagamaan atau religiusitas seseorang diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupannya. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat dengan mata, tetapi juga aktivitas yang tidak tampak dan terjadi dalam hati seseorang.

Menurut Nurcholis Madjid, agama bukanlah sekedar tindakan-tindakan ritual seperti shalat dan membaca do’a. Agama lebih dari itu, yaitu keseluruhan tingkah laku manusia yang terpuji, yang dilakukan demi memperoleh ridla atau perkenan Allah. Agama dengan demikian meliputi keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur atas dasar percaya atau iman kepada Allah dan tanggung jawab pribadi di hari kemudian.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dipahami bahwa nilai religius adalah nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh-kembangnya kehidupan beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan aturan-aturan Illahi untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagian hidup di dunia dan akhirat.

Bila nilai-nilai religius tersebut telah tertanam pada diri siswa dan dipupuk dengan baik, maka dengan sendirinya akan tumbuh menjadi jiwa agama. Dalam al ini jiwa agama merupakan suatu kekuatan batin, daya dan kesanggupan dalam jasad manusia yang menurut para ahli Ilmu Jiwa Agama, kekuatan tersebut bersarang pada akal, kemauan dan perasaan. Selanjutnya, jiwa tersebut dituntun dan dibimbing oleh peraturan atau undang-undang Illahi yang disampaikan melalui para Nabi dan Rosul-Nya untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan baik di kehidupan dunia ini maupun dan di akhirat kelak.

Bila jiwa agama telah tumbuh dengan subur alam diri siswa, maka tugas pendidik selanjutnya adalah menjadikan nilai-nilai agama sebagai sikap beragama siswa. Sikap keberagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya kepada agama. Sikap keagamaan tersebut karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur afektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif/ psikomotorik. Jadi sikap keagamaan pada anak sangat berhubungan erat dengan gejala kejiwaan anak yang terdiri dari tiga aspek tersebut.


Daftar Pustaka:
1. Zainuddin, Tantangan Pendidikan Tinggi Islam Pada Millenium Ketiga, dalam tabloid GEMA STAIN Malang, edisi Mei-Juni 2000, hal. 2.
2. Moh. Yunus, Pluralitas Agama dan Kekerasan Kolektif, Perspektif Sosiolagi Agama, Dalam majalah el-Harakah STAIN Malang, Edisi April – Juni 2000, hal : 26
3. A. Qodri Azizy, Pendidikan (Agama) Untuk Membangun Etika Sosial (Mendidik Anak Sukses Masa Depan : Pandai dan Bermanfaat ), Semarang: Aneka Ilmu, 2002, hal. 8-14
4. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Rosdakarya, 2001, hal. 288
5. Madyo Ekosusilo, Hasil Penelitian Kualitatif Sekolah Unggul Berbasis Nilai (Studi Multi Kasus di SMA Negeri 1, SMA Regia Pacis, dan SMA Al Islam 01 Surakarta), Sukoharjo: Univet Bantara Press, 2003), hal.22
6. Ary Ginanjar Agustian Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power: Sebuah Inner Journey Melalui Ihsan. Jakarta: ARGA, 2003, hal. 249
7. Djamaluddin Ancok, Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi, Cet. II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995, hal. 76
8. Nurcholis Madjid, Masyarakat Religius. Jakarta: Paramadina, 1997, hal. 124
9. Muhaimin dan Abdul Mudjib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Triganda Karya, Bandung, 1993, hal. 35




Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com

RELIGIUS ISLAMI

PACARAN ADALAH PERBUATAN MAKSIAT DAN HUKUMNYA ADALAH HARAM. MAKA JANGAN BERPACARAN!! SEGERALAH MENIKAH. (08995346574) -

kumpulan cerita-cerita religi islam – kisah-kisah religi islami – cerita religi islami – kisah religi islam

kumpulan cerita-cerita religi islam – kisah-kisah religi islami – cerita religi islami – kisah religi islam
———————–
Batu Masuk Ke Telinganya Beberapa Lama, Lalu Keluar
Dari Sa’id bin ‘Anbasah, ia berkata, “Tatkala seseorang sedang duduk sambil bermain-main dengan beberapa buah batu kerikil dan melempar-lemparnya, tiba-tiba ada yang mental dan masuk ke dalam telinganya. Orang itu terus berupaya dengan segala cara namun tidak berhasil mengeluarkannya. Beberapa batu itu masih belum bisa keluar dari dalam telinganya itu selama beberapa lama sehingga sangat menyiksanya. Hingga suatu ketika saat ia duduk, tiba-tiba mendengar seorang Qari membaca ayat Allah, (artinya) “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan…” (an-Naml:62) Maka berkatalah ia, “Ya Rabb, Engkaulah Yang Maha Memperkenankan doa itu, dan akulah pula orang yang dalam kesulitan itu, maka hilangkanlah kesusahan yang sedang kuderita ini.!” Tak berapa lama, tiba-tiba beberapa kerikil berjatuhan yang ada di dalam telinganya itu pun keluar. Subhanallah!”
(SUMBER: asy-Syifaa` Ba’da al-Maradl karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy, hal.43 sebagai yang dinukilnya dari al-Faraj Ba’da asy-Syiddah karya al-Qadli at-Tannukhy, Juz.I, hal.89)
=====================================
kumpulan cerita-cerita religi islam – kisah-kisah religi islami – cerita religi islami – kisah religi islam
————————————————
Jangan Suka Mempermainkan Kehormatan Orang
Suatu hari, Qarun memanggil seorang WTS dan memberinya segepuk uang sebagai sogokan agar ia mau mengatakan di hadapan khalayak Bani Israil bahwa Musa telah menzinahinya.
Kemudian Qarun merangcang untuk menggelar suatu pertemuan dan meminta agar Musa menyampaikan wejangan di sana kepada masyarakat Bani Israil. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Musa memenuhi permintaan itu sementara orang-orang pun datang dari segala penjuru sehingga terkumpullah sekian banyak orang. Musa lalu menceramahi mereka. Di tengah ia berceramah tersebut, tiba-tiba Qarun berdiri seraya berkata, “Wahai Musa, menurutmu, apa yang akan engkau lakukan terhadap orang yang mencuri.?” Musa menjawab, “Kita akan potong tangannya.” Qarun menambahkan lagi, “Kalau orang yang berzina.?” Musa menjawab, “Kalau ia seorang yang sudah menikah, hukumannya dirajam (dilempar batu hingga mati) dan bila ia belum menikah, maka hukumannya dicambuk.” Qarun menimpali untuk menyudutkan Musa, “Sekali pun pelakunya itu engkau sendiri.?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari melakukan hal itu. Hukum Hadd tetap berlaku terhadap semua orang, sekali pun aku sendiri.” Maka ketika itu, berkatalah Qarun kepada wanita yang telah disogoknya tersebut, “Berdirilah.!” Namun anehnya, wanita tersebut tidak mampu berdiri sama sekali. Ia gemetaran dan sekujur tubuhnya menggigil. Seluruh energinya melorot sama sekali, kulitnya mengerut, hatinya malu dan dirinya diliputi rasa hampa dan lemah.
Dalam suasana seperti itu, berterusteranglah wanita tersebut, “Wahai Musa, sesungguhnya Qarun telah menyuapku dengan uang yang sangat banyak agar aku menuduhmu berbuat zina dengan diriku.” Maka meluaplah emosi Musa seraya berkata, “Aku memintamu atas nama Dzat Yang telah menurunkan kitab Taurat, apakah apa yang dikatakan Qarun benar.?” Wanita itu menjawab, “Aku bersaksi bahwa engkau terbebas dari tuduhan itu (tidak berdosa) dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.”
Begitu mendengar itu, Musa langsung melompat untuk bersujud ke hadapan Rabbnya seraya mendoakan kebinasaan atas orang yang telah menzhaliminya.
Maka Allah pun mewahyukan kepadanya agar ia mengangkat kepala sebab bumi telah tunduk kepadanya. Lalu Musa berkata kepada bumi, “Telanlah mereka.!” Maka bumi menelan mereka sebatas kaki-kaki mereka, kemudian menelannya lagi hingga sebatas lutut-lutut mereka. Demikianlah hingga benar-benar bumi menelan seluruh jasad mereka, tidak seorang pun yang tersisa.
Dalam hal ini, Qatadah as-Sadusy berkata, “Allah menghempaskan mereka setiap harinya seukuran badan mereka hingga hari kiamat.”
Dan diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas bahwasanya mereka telah dihempaskan ke dalam tujuh lapis bumi.
Juga terdapat hadits yang menyebutkan bahwa ketika Allah menghempaskan Qarun dan orang-orang yang bersamanya, mereka mulai meminta Musa atau memanggil-manggilnya, “Kami bertobat, kami bertobat, tidak akan mengulangi lagi.” Ketika mereka dalam kondisi seperti itu, Musa hanya memandangi mereka, lalu Allah mewahyukan kepada Musa, “Para hamba-Ku berkata kepadamu, ‘Wahai Musa, jangan kasihi mereka.” Akan tetapi, bila ia meminta kepada-Ku, pasti mereka mendapati-Ku dekat dengan mereka dan Maha Mengabulkan. Wallahu a’lam dengan kebenaran berita ini. (Taariikh al-Umam Wa al-Muluuk, karya Imam ath-Thabary; al-Bidaayah Wa an-Nihaayah, karya Ibn Katsir)
Qarun telah pergi (mati) dengan menuai balasan atas kezhaliman dan sifat irinya. Allah menghempaskannya ke bumi dan menjadikannya sebagai pelajaran bagi semua manusia sepanjang masa. Sementara Musa pergi dengan membawa kemuliaan di dunia dan akhirat serta hidup dengan bahagia dan meninggal dunia secara terpuji.
Apakah para tukang ‘tuduh’ kehormatan orang-orang yang suci mau berkaca pada akibat yang dialami karena berbuat zhalim? Akankah mereka menarik lisan mereka, mengatur gerak-gerik anggota badannya, merasa selalu diawai Allah dan mengetahui bahwa mereka pasti akan dicoba akibat perbuatan mereka mencemarkan kehormatan orang?
Pepatah arab mengatakan, “Sebagaimana engkau menghina, maka demikian pulalah kamu akan dihina.” Kehidupan adalah pinjaman dan hutang.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan zhalim dan orang-orang yang berbuat zhalim, dari perbuatan fasiq dan orang-orang yang berbuat fasiq serta dari para penyeru kepada kejelekan dan orang-orang yang berpura-pura agamis.
(SUMBER: Nihaayah azh-Zhaalimiin karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-on Haazimy, juz.III, h.65-67, no.57)
 silahkan kunjungi situs islam yang sangat bermanfaat: www.muslim.or.id , www.kajian.net , www.eramuslim.com , www.rumaysho.com , www.pengusahamuslim.com , www.asysyariah.com , www.ustadzaris.com,on

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Pendidikan anak usia dini

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini adalah bagian dari seri
Pendidikan di Indonesia
Tut Wuri Handayani.svg
Pendidikan anak usia dini
Taman kanak-kanak
Raudatul athfal
Kelompok bermain
Pendidikan dasar (Kelas 1-6)
Sekolah dasar
Madrasah ibtidaiyah
Kelompok belajar Paket A
Pendidikan dasar (Kelas 7-9)
Sekolah menengah pertama
Madrasah tsanawiyah
Kelompok belajar Paket B
Pendidikan menengah (Kelas 10-12)
Sekolah menengah atas/kejuruan
Madrasah aliyah/kejuruan
Kelompok belajar Paket C
Pendidikan tinggi
Perguruan tinggi:
Akademi
Institut
Politeknik
Sekolah tinggi
Universitas
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
  • Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
  • Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.
Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini
  • Infant (0-1 tahun)
  • Toddler (2-3 tahun)
  • Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
  • Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

Satuan pendidikan penyelenggara

Lihat pula

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Pedoman Pelaksanaan USBN PAI 2012

Insya Allah, beberapa bulan lagi akan dilaksanakan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) PAI SMP Tahun 2012. Kebijakan pemerintah ini diambil untuk meningkatkan motivasi para siswa agar lebih mempelajari dan meningkatkan prestasi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Selain itu, tujuan yang lebih penting tentunya adalah agar para siswa lebih mencintai dan mengamalkan Islam sebagai pedoman hidup agar selamat di Dunia dan Akhirat.

Bagi yang mau mendownload Pedoman Pelaksanaan serta Kisi-kisi USBN PAI Tahun 2012, silakan klik link di bawah ini:
Pedoman Pelaksanaan USBN PAI SD, SMP, dan SMA/SMK Tahun 2012
Soal Try Out (TO) USBN PAI SMPN 1 Kota Bogor, Tahun 2012
Slide Soal Try Out (TO) USBN PAI SMP 1 Kota Bogor, Tahun 2012

Selain itu, bagi yang mau berlatih mengerjakan soal-soal USBN PAI SMP secara Online silahkan mampir ke Website E-Learning SMPN 1 Bogor dan login dengan mempergunakan password berikut ini:
User Name: elearning
Password: SMPN1 Bogor

Pesantren Kilat (SANLAT) ala Spensa

Alhamdulillah, dalam rangka mengisi Bulan Suci Ramadhan 1432 H., SMPN 1 Kota Bogor telah mengadakan Pesantren Kilat (Sanlat) 1432 H dari tgl. 4 s.d 19 Ramadhan 1432 H.
Dalam Sanlat ini, para siswa kelas 7, 8, n 9 diberikan materi dan wawasan seputar Islam agar menjadi generasi muda yang bertaqwa.
Agar menarik dan tidak Bete/borring, maka materi dikemas dengan berbagai tayangan multimedia (plus film dan sound effect) serta games. Adapun materinya, selain disajikan materi2 penting seperti: Al-Qur'an, Aqidah, Akhlaq, Fiqih, dan Siroh Nabawiyah, maka disajikan pula materi2 yang aktual bangeut dan penting bagi para remaja, seperti: "Pacaran? No Way!...."; "Aliran dan Paham Sesat di Indonesia"; "Islamic Worldview"; Motivation Training dari Sudut Inspirasi; "Dzikrul Maut"; n "Praktek Pengurusan Jenazah".
Selain itu, setiap harinya dilaksanakan juga pembiasaan islami, seperti Tadarus, Sholat Sunnah Dhuha, serta Sholat Dzuhur dan Jum'at Berjama'ah.
Sedangkan para pematerinya adalah beberapa orang guru SMPN 1 Bogor ditambah pemateri dari luar, yaitu sbb: Ust. Hasanuddin, S.Ag; Abu Abdillah (S-Man); Ust. Ruhiyat, S.Pd; Ust. Dedi R., S.pd; Ust. Warsito, M.Pd; Ust. Dadi, Ust. Edi S., S.Pd; Ust. Rahmat, S.Hi; Tim Mentoring SMPn 1 Bogor, dan Kak Rizky (Sudut Inspirasi).

To Ana2Qyu: Bapak minta commentnya donk, bagaimana kesanMyu selama mengikuti Sanlat n apa ada saran2? Tolong tulis pada kotak komentar di bawah ini yach....


http://pai-rizal.blogspot.com/